Contoh Pendidikan Informal dan Nonformal di Masyarakat

Contoh Pendidikan Informal dan Nonformal di Masyarakat

Contoh Pendidikan Informal – Ada sejumlah contoh pendidikan informal dan nonformal di masyarakat. Definisi pendidikan informal adalah bentuk pendidikan yang tidak berada dalam institusi formal, melainkan di peroleh dari lingkungan sosial dengan berpegang pada nilai-nilai dan prinsip tertentu.

Pendidikan ini bertujuan untuk memfasilitasi perkembangan individu sesuai dengan minat dan bakatnya. Sedangkan pendidikan nonformal lebih berfokus pada pengembangan soft skill individu selama mengikuti programnya.

Berikut adalah beberapa contoh pendidikan informal dan nonformal yang ada di Indonesia.

Contoh Pendidikan Informal dan Nonformal

Berikut adalah beberapa bentuk pendidikan nonformal yang ada di masyarakat Indonesia:

1. Kursus/Bimbingan Belajar

Kursus atau bimbingan belajar di Indonesia termasuk dalam pendidikan non-formal. Program pembelajaran biasanya memiliki durasi lebih singkat di bandingkan dengan pendidikan formal. Peserta kursus atau bimbingan belajar tidak terbatas pada usia tertentu, dan materi yang di ajarkan lebih praktis dan khusus.

2. Homeschooling

Metode pendidikan di rumah, yang disebut Homeschooling atau HS, melibatkan orang tua atau keluarga sebagai penanggung jawab utama atas pendidikan anak. Homeschooling menjadi alternatif yang berkembang di antara pendidikan non-formal dan pendidikan informal.

3. Pesantren

Pesantren adalah lembaga pendidikan non-formal berbasis agama yang telah ada di Indonesia. Di pesantren, siswa atau santri tinggal bersama dalam asrama di bawah bimbingan guru yang di kenal sebagai kiai.

Baca Juga : Cara Membangun Pendidikan Karakter Siswa

Lembaga Pendidikan Informal

Contoh dari lembaga pendidikan informal di masyarakat Indonesia meliputi partai politik, pengajian, Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA), lembaga swadaya masyarakat (LSM), pasraman, organisasi relawan, keluarga, masyarakat, dan lingkar pergaulan.

4. Partai Politik

Partai politik dapat di anggap sebagai wadah pembelajaran informal di mana anggotanya memegang ideologi tertentu dan memiliki nilai-nilai sosial serta cita-cita yang sama.

5. Pengajian

Pengajian tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi banyak penganut agama Islam sebagai wadah pembelajaran agama secara informal.

6. Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA)

TPA menyelenggarakan pendidikan nonformal berupa pemahaman tentang agama Islam dan pembacaan Al Qur’an sejak usia dini.

7. LSM

LSM didirikan oleh individu atau kelompok orang dengan keahlian tertentu yang memberikan pelayanan sukarela kepada masyarakat tanpa tujuan mendapatkan keuntungan dari kegiatan mereka.

8. Organisasi Relawan

Mirip dengan LSM, organisasi relawan biasanya berdiri untuk membantu dan berpartisipasi dalam memberikan pertolongan di wilayah-wilayah rawan bencana, dan menjadi media pembelajaran informal.

9. Keluarga

Keluarga merupakan wadah pertama bagi setiap manusia dalam belajar. Pendidikan informal dalam keluarga merupakan proses yang murah meriah dan ilmu yang di peroleh tetap berdampak hingga akhir hayat.

Cara Membangun Pendidikan Karakter Siswa

Cara Membangun Pendidikan Karakter Siswa

Cara Membangun Pendidikan Karakter – Tahukah guru membangun karakter siswa ternyata bisa bermanfaat untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran lho. Oleh karena itu, yuk simak beberapa cara membangun karakter siswa berikut ini.

Pada dasarnya karakter siswa mencakup berbagai aspek, seperti nilai-nilai moral, sikap, kepribadian, dan perilaku siswa (terutama dalam menjalani proses belajar). Aspek inilah yang bisa bermanfaat untuk membuat siswa bisa selalu fokus memperhatikan pemaparan guru tentang materi pelajaran, sehingga siswa bisa menjadi lebih mudah memahami materi pelajaran.

Selain itu, memiliki karakter yang kuat dan baik bisa bermanfaat untuk memudahkan siswa agar bisa berbaur dan di terima oleh masyarakat luas.

Cara Membangun Karakter Siswa 

Pada dasarnya membangun karakter siswa bisa di lakukan dari siswa duduk di bangku sekolah dasar. Namun, cara membangun karakternya juga lebih sederhana di bandingkan cara membangun karakter siswa yang duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Beberapa cara membangun karakter siswa yang bisa guru lakukan, yaitu

1. Beri Tahu Siswa Tentang Nilai-nilai Moral 

Hal pertama yang perlu lakukan untuk membangun karakter siswa adalah dengan mengajarkan pada siswa tentang nilai-nilai moral. Seperti kejujuran, kebaikan, kerjasama, dan rasa hormat terhadap orang lain. Jangan lupa juga untuk menyampaikan kepada siswa bahwa nilai-nilai moral ini bisa dan harus di terapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di sekolah saja.

2. Berikan Contoh Yang Baik Pada Siswa

Langkah selanjutnya yang perlu guru lakukan untuk membangun karakter siswa adalah dengan selalu memberikan contoh yang baik pada siswa. Karena siswa biasanya cenderung lebih mudah memahami hal yang di contohkan guru, di bandingkan memahami hal yang di sampaikan.

Memberikan contoh yang baik pada siswa bisa bermanfaat untuk membangun karakter siswa dalam aspek nilai-nilai moral. Beberapa contoh baik yang bisa guru tunjukkan pada siswa adalah cara membuat keputusan yang baik, berkomunikasi dengan guru yang lain, memimpin kelas, dan menertibkan kelas.

Baca Juga : Contoh Pendidikan Non Formal Bagi Anak

3. Tunjukan Rasa Empati

Kadang, salah satu cara paling efektif untuk membangun karakter siswa adalah dengan menunjukkan rasa empati dan posisikan diri sebagai siswa saat mengajar. Karena hal ini bisa bermanfaat untuk membuat siswa lebih di hargai dan akhirnya akan melakukan hal yang sama kepada orang lain di sekitarnya. Salah satu cara paling mudah untuk menunjukkan rasa empati adalah dengan membantu siswa yang kesulitan belajar dan mendengarkan keluh kesah siswa.

4. Biasakan Siswa Untuk Membantu Orang Lain 

Pada dasarnya membiasakan siswa dalam membantu orang lain bisa bermanfaat untuk membuat siswa memiliki moral dan karakter yang baik. Sehingga siswa bisa lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat luas. Beberapa cara yang bisa guru lakukan untuk membiasakan siswa membantu orang lain. Adalah minta siswa untuk membantu menyiapkan perlengkapan praktikum dan minta siswa untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan.

Selain bermanfaat dalam membangun karakter siswa, membiasakan siswa untuk membantu orang lain bisa bermanfaat untuk memudahkan guru dalam melakukan proses belajar mengajar dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Karena dengan di beri kepercayaan untuk membantu orang lain, maka siswa akan merasa lebih di hargai.

5. Biasakan Siswa Untuk Memberikan Pendapat

Selain bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa, membiasakan siswa untuk bertanya atau memberikan pendapat juga sangat bermanfaat untuk membangun karakter siswa. Hal ini bisa bermanfaat untuk menumbuhkan pemikiran kritis pada siswa dan membuat siswa memiliki moral yang lebih baik.

Untuk membiasakan siswa menyampaikan pendapat, sesekali guru bisa meminta siswa untuk menjelaskan materi pelajaran yang baru saja di ajarkan. Agar siswa semakin terpacu untuk memberikan pendapat, guru juga bisa memberikan apresiasi kecil untuk siswa yang telah berani mengutarakan pendapatnya. Misalnya dengan memberikan stiker bintang atau sebatang cokelat.

Contoh Pendidikan Non Formal Bagi Anak

Contoh Pendidikan Non Formal Bagi Anak

Contoh Pendidikan Non Formal – Pendidikan non-formal untuk anak tidak seperti pendidikan formal yang wajib di lakukan di sekolah dengan program dan terjadwal. Aktivitas ini bisa di lakukan kapan saja bahkan di rumah dan di ajarkan sendiri oleh orang tua. Lalu apa saja contohnya? Simak pembahasan berikut.

1. Pendidikan Budi Pekerti

Pendidikan non-formal pertama yang bisa di lakukan orang tua kepada buah hatinya yaitu memberikan pendidikan budi pekerti. Tentu saja hal ini sangat penting sebab mempengaruhi perilakunya hingga dewasa. Dengan demikian, sudah seharusnya ditanamkan sejak dini.

Anak tentu perlu untuk di berikan bimbingan, tidak hanya pengetahuan tetapi juga budi pekerti supaya mampu memiliki daya saing di sertai dengan akhlak mulia. Meskipun potensi anak telah ada sejak lahir, namun mereka tetap memerlukan bimbingan supaya berkembang ke arah yang lebih baik.

Kesimpulannya, pendidikan budi pekerti mengacu pada penanaman dan pengembangan budi pekerti yang luhur. Pengajaran tersebut di antaranya sikap tanggung jawab, jujur, sopan santun, ikhlas, di siplin, dan lain sebagainya.

2. Pendidikan Agama

Pendidikan yang di berikan kepada buah hati tidak hanya menyangkut kecerdasan, kemampuan dalam mata pelajaran dan keterampilan. Namun, anak harus di bekali dengan ilmu agama supaya ketika dewasa dapat membedakan antara mana yang benar dan salah. Selain itu, anak juga dapat menjaga dirinya sendiri dari pergaulan bebas.

Di era globalisasi, anak-anak telah mampu mengakses informasi tak terbatas hingga kadang kurang pengawasan orang tua. Dengan demikian, mereka sangat mudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas jika tidak dibekali ilmu agama. Inilah mengapa pendidikan agama sangat penting.

Baca Juga : Mengenal Sistem Pendidikan Nasional Indonesia serta Fungsi

3. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter merupakan cerminan perilaku baik dari anak. Pencerminan tersebut meliputi toleransi pada perbedaan, jujur dalam perkataan, tertib dengan peraturan, dan sifat religius. Selain itu, karakter juga mencakup sikap mandiri, bersahabat, inovatif, kreatif, dan peduli dengan sosial maupun lingkungan. Dengan demikian, dengan pengembangan karakter anak mampu untuk memaksimalkan potensi diri dan kehidupan sekitar.

Pembentukan karakter tidak hanya bertumpu pada pendidikan di sekolah, namun juga pendidikan yang di dapatkan di rumah oleh orang tuanya. Selain itu, bisa di dapatkan dari berbagai kegiatan positif di antaranya olahraga, musik, dan lain-lain.

4. Pendidikan Sopan Santun

Sopan santun mengandung pengertian bentuk kepekaan atau kesadaran kita terhadap perasaan orang lain. Namun, hal ini tidak di bawa anak sejak lahir. Dengan demikian, orang tua harus mengajarkan dan menanamkan sejak kecil.

Sopan santun juga tidak termasuk sebagai aturan tertulis, namun di butuhkan untuk menjalin hubungan dengan masyarakat dan lingkungan sosial. Dengan memiliki sopan santun, anak akan memiliki bekal di masa depan supaya mampu hidup bersama dengan orang lain.

5. Pendidikan Mental

Dengan memiliki mental yang tangguh, maka anak tidak akan mudah menyerah dan memiliki motivasi untuk berani mencoba hingga berhasil. Selain itu, anak juga akan berani bertanggung jawab dan berlapang dada saat menghadapi kegagalan. Nah, untuk mendapatkan mental tangguh setengahnya di dapatkan dari faktor genetik, separuhnya lagi dari lingkungan sosial. Dengan demikian, pembentukan mental dapat di bentuk dan di latih.

Saat proses belajar, ada saatnya anak menemukan kejenuhan. Di sinilah peran orang tua penting untuk memberikan kata-kata positif supaya tidak putus asa mengejar impian. Saat inilah anak akan kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.

Mengenal Sistem Pendidikan Nasional Indonesia serta Fungsi

Mengenal Sistem Pendidikan Nasional Indonesia serta Fungsi

Mengenal Sistem Pendidikan Nasional – Pendidikan adalah salah satu bagian dari hak asasi manusia, untuk itu setiap negara wajib memiliki sistem pendidikan yang baik. Begitu pula dengan sistem pendidikan nasional Indonesia yang sudah di atur dalam peraturan perundang-undangan.

Sistem tersebut penting sebagai landasan bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Sehingga, kualitas pendidikan di negara Indonesia bisa ditingkatkan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat yang tercantum dalam UUD 1945.

Sekilas tentang Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) secara resmi di atur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 yang isinya mengatur terkait sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia.

Dalam regulasi tersebut, sistem penyelenggaraan pendidikan wajib menerapkan beberapa prinsip penting. Di antaranya yaitu pendidikan wajib di selenggarakan dengan cara demokratis, berkeadilan, serta tidak bersifat diskriminatif.

Untuk itu, penyelenggaraan pendidikan wajib dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai HAM atau Hak Asasi Manusia, nilai agama, nilai budaya, serta kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan sistemis melalui sistem terbuka dan multimakna.

Fungsi Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia

Tujuan sistem pendidikan di Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik. Supaya menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Dasar, fungsi, dan tujuan sistem pendidikan Indonesia tersebut sudah tertuang dalam Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003. Di dalamnya di sebutkan bahwa pendidikan nasional memiliki fungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Baca Juga : Manfaat Pendidikan Setiap Individu, Tingkatkan Kesejahteraan

Visi Misi Pendidikan Nasional di Indonesia

Untuk menjalankan fungsinya sesuai amanat Undang-Undang, penyelenggara sistem pendidikan di Indonesia yaitu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memiliki visi dan misi tertentu. Mengutip dari laman resmi Kemdikbudristek, visinya adalah:

“Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendukung Visi dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global”.

Jenjang Program Pendidikan Nasional Indonesia dan Jenisnya

Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 terkait Sisdiknas, sistem pendidikan Indonesia terdiri atas beberapa tingkatan sesuai dengan level perkembangan peserta didik, kemampuan, dan tujuan yang ingin di raih. Adapun jenjang pendidikan tersebut terdiri dari sebagai berikut:

1. Pendidikan Dasar

Adalah jenjang pertama yang menjadi basis untuk melanjutkan ke pendidikan menengah. Yaitu berupa SD (Sekolah Dasar) atau MI (Madrasah Ibtidaiyah), serta jenjang selanjutnya yaitu SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah).

2. Pendidikan Menengah

Jenjang ini terbagi atas pendidikan umum dan kejuruan. Contohnya yaitu SMA (Sekolah Menengah Atas), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), MA (Madrasah Aliah), serta MAK (Madrasah Aliah Kejuruan).

3. Pendidikan Tinggi

Jenjang terakhir ini di selenggarakan oleh perguruan tinggi dan meliputi beberapa program pendidikan secara lebih spesifik. Di antaranya pendidikan Diploma, Sarjana, Magister, Doktor, hingga Spesialis.

Selain di bedakan berdasarkan jenjang, program pendidikan nasional juga bisa di bedakan berdasarkan jenisnya. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003, jenis-jenis program tersebut di klasifikasikan berdasarkan kelompok yang berbasis pada tujuan pendidikan suatu entitas secara spesifik, yaitu meliputi:

Manfaat Pendidikan Setiap Individu, Tingkatkan Kesejahteraan

Manfaat Pendidikan Setiap Individu, Tingkatkan Kesejahteraan

Manfaat Pendidikan Setiap Individu – Pendidikan merupakan satu di antara faktor penting dalam kehidupan setiap individu. Melalui pendidikan, seseorang dapat mengembangkan potensi diri, memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan berperan penting dalam mengembangkan potensi diri seseorang. Melalui pendidikan, individu dapat menemukan dan mengenali minat dan bakatnya.

Pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk mengatasi masalah atau tantangan, maupun untuk mengambil keputusan yang tepat.

Tidak hanya itu, pendidikan dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dengan memiliki pendidikan yang baik, individu memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi.

Itulah mengapa, pendidikan seharusnya menjadi prioritas bagi setiap individu, dan pemerintah harus terus memperhatikan dan meningkatkan akses pendidikan di semua tingkatan.

1. Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan

Melalui pendidikan, setiap individu memiliki kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang di milikinya.

Dengan memiliki pengetahuan yang luas, seseorang dapat memahami dunia dengan lebih baik, mengembangkan pemikiran kritis, dan mengambil keputusan yang lebih baik.

Selain itu, keterampilan yang di peroleh melalui pendidikan seperti kemampuan berpikir logis, berkomunikasi efektif, dan problem solving, dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang dan mempersiapkannya untuk sukses dalam dunia kerja.

2. Membantu Pembentukan Karakter dan Etika

Pendidikan berperan penting dalam pembentukan karakter dan etika individu. Melalui pendidikan, individu belajar nilai-nilai seperti kejujuran, di siplin, berpikir positif, dan menghargai kerja keras.

Keberadaan aturan dan norma dalam lingkungan pendidikan membantu individu memahami pentingnya tanggung jawab, rasa hormat terhadap orang lain, dan keadilan.

Dengan memiliki karakter yang baik, individu memiliki fondasi yang kuat untuk hidup yang bermakna dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Baca Juga : Tantangan Pendidikan di Kupang dan Upaya Kemitraan Indonesia

3. Membuka Peluang Kerja Lebih Banyak

Pendidikan yang baik juga memberikan individu kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan membuka peluang kerja yang lebih banyak. Selain itu, Pendidikan yang tinggi biasanya di anggap sebagai kualifikasi penting dalam dunia kerja saat ini. Dengan memiliki pendidikan yang baik, seseorang memiliki keunggulan kompetitif dalam mencari pekerjaan dan dapat memilih pekerjaan yang sesuai minat dan passion mereka.

Selain itu, pendidikan membantu seseorang untuk mengembangkan keterampilan khusus yang di perlukan dalam dunia kerja sehingga meningkatkan kemungkinan untuk sukses dalam karier mereka.

4. Meningkatkan Kesadaran Diri dan Pencapaian Tujuan Hidup

Melalui pendidikan, individu dapat meningkatkan kesadaran diri tentang potensi dan minat mereka. Selain itu, Pendidikan membantu individu untuk mengenal diri mereka sendiri, menemukan minat dan bakat mereka, dan mengidentifikasi tujuan hidup yang ingin mereka capai.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri, seseorang dapat mengambil langkah-langkah konkret dalam mencapai tujuan mereka dan hidup yang lebih memuaskan.

5. Meningkatkan Kesehatan dan Kesejahteraan

Studi menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi berhubungan dengan tingkat kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik.

Seseorang yang memiliki pendidikan yang tinggi cenderung memiliki akses yang lebih baik ke informasi kesehatan, layanan medis, dan pola hidup yang sehat.

Mereka juga cenderung memiliki penghasilan yang lebih tinggi, yang memungkinkan mereka untuk mengakses makanan bergizi dan fasilitas olahraga.

Tantangan Pendidikan di Kupang dan Upaya Kemitraan Indonesia

Tantangan Pendidikan di Kupang dan Upaya Kemitraan Indonesia

Tantangan Pendidikan di Kupang – Dengan total penduduk sekitar 5,5 juta jiwa, masih ada 10.590 anak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang belum pernah mengenyam pendidikan formal, dan 27.287 murid yang tidak melanjutkan sekolah (tidak tamat SD/SMP).

Kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) itu bahkan ada di berbagai jenjang yaitu 7-12 tahun, 13-15 tahun, dan 15 tahun ke atas, menurut data yang di paparkan Provincial Manager “Inovasi” NTT, Hironimus Sugi, Rabu (26/6/2024).

Inovasi (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) adalah program kemitraan Indonesia dan Australia—yang di pimpin Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT)—untuk meningkatkan literasi, numerasi, dan karakter siswa Sekolah Dasar (SD) dan satu tahun pra-SD.

1. Kondisi Geografis, Akses ke Sekolah

Hironimus melanjutkan, persoalan pendidikan di daerah terpencil, kabupaten tertinggal, juga menjadi tantangan tersendiri bagi NTT yang memiliki 566 pulau dengan 24 di antaranya yang berpenghuni.

Persoalan geografis ini juga di sampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang Eliazer Teuf dalam kesempatan yang sama ketika berjumpa dengan awak media di Hotel Sotis.

“Luas wilayah Kabupaten Kupang ini sembilan kali Pulau Bali. Pulau Bali 6.000 kilometer persegi, kita di Kabupaten Kupang kurang lebih 54.000 kilometer persegi,” ungkapnya.

Baca Juga : https://www.kemenagkabbekasi.com/

2. Rendahnya Kemampuan Membaca

Erix menjelaskan, di dunia pendidikan sekarang ada isu yang di sebut schooling but not learning, yaitu anak-anak pergi ke sekolah, tetapi tidak belajar.

“Dan salah satu penyebab dari fenomena schooling but not learning itu adalah kemampuan membaca yang rendah.”

“Anak-anak sekalipun mereka pergi ke sekolah ternyata mereka tidak memahami pembelajaran, mereka tidak bisa membaca,” ungkap Erix.

Eliazer mengakui bahwa mutu satuan pendidikan di Kupang masih rendah karena Standar Pelayanan Minimum (SPM)-nya 53,73, butuh tambahan nilai 6,27 untuk mencapai rapor hijau di nilai 60.

“Sedangkan literasi kita masih butuh angka sekitar 22 baru bisa masuk ke 60. Tapi kami optimis bahwa kami ingin berprestasi,” imbuhnya.

3. Sumber Daya Terbatas

Tantangan pendidikan lainnya yang di ungkapkan Hironimus adalah dari 5,5 juta penduduk NTT, 4.480.072 di antaranya bermukim di pedesaan, sedangkan sisanya berdomisili di 22 kabupaten/kota.

Herdiana menambahkan, NTT berada di peringkat tiga terendah dalam aspek kesehatan dan ekonomi.

Program Inovasi, Upaya Indonesia-Australia Tingkatkan Literasi Anak di NTT

Meski di rundung sejumlah persoalan, secercah cahaya menyinari sektor pendidikan NTT. Salah satunya adalah Reading Camp dari program Inovasi, hasil kemitraan Indonesia-Australia.

Reading Camp atau Kamp Baca di adakan untuk anak-anak SD yang belum lancar membaca.

Pembelajaran di lakukan di luar jam belajar pukul 14.30-16.30 Wita contohnya di SD Inpres Tarus 1, Kupang.

“Kita mengaktifkan komunitas belajar dan melaksanakan atau melakukan program Reading Camp. Sebagaimana yang telah kita saksikan di SD Inpres Tarus 1. Itu strategi pertama,” kata Eliazer.

Ia pun berbangga dengan hasil yang di dapat Kabupaten Kupang pada 2024. Asesmennya di lakukan pada 2023—karena ada peningkatan literasi dari 32,89 menjadi 38,24 persen.