Berkarya di Pusaran Kesibukan:Menelisik Hikmah Menulis

Oleh : Wahyudin, M.Pd.I
Pengawas PAI Kemenag Kab. Bekasi

Terinspirasi dari sebuah buku SOS (Sapa Ora Sibuk), “Menulis dalam Kesibukan” yang ditulis Much. Khoiri, saya tergelitik untuk menulis opini ini. Sebuah opini yang memantik saya untuk konsisten menulis dan menorehkan seuntai karya.

Ternyata, hanya orang yang berada dalam pusaran kesibukan yang mampu menulis. Mengapa demikian? Karena, seseorang yang memiliki kesibukan itu selalu terbuka idenya, terungkap pemikiran dan gagasannya untuk menorehkan karya. Terutama berupa pengalaman dari aktivitasnya. Dari pengalaman dan realisasi kinerja inilah bisa dituliskan dan di share pada dunia.

Selaras dengan uraian Much. Khoiri (2016:28) mengutip ungkapan Novelis F. Scott Fitzgerald menyatakan “The reason one writes isn’t the fact he wants to say something. He writes because he has something to say.” “Alasan mengapa orang menulis bukannya fakta bahwa dia ingin mengatakan sesuatu. Dia menulis karena memiliki sesuatu untuk dikatakan.”

Sejatinya, setiap orang pasti ada pengalaman dan gagasan yang layak untuk dituliskan. Sehingga menginspirasi dan diambil manfaatnya oleh orang lain. Di sinilah substansi urgensi menulis, sehingga mampu mengkampanyekan gagasan kepada publik.

Mendialogkan Pikiran Berbasis Intelektualitas

Dengan menulis, kita mampu mendialogkan pikiran berbasis intelektualitas. Segala gagasan, dapat dikemas dengan genre masing-masing. Bisa berbentuk reportase kegiatan, prosa, puisi, opini, essay, novel dan lainnya. Ruang literasi ini mampu menjadikan gagasan kita dinikmati sehingga bermanfaat bagi khalayak.

Membuka ruang Pemikiran dan Meninggalkan Legacy

Karya yang kita torehkan saat ini bisa jadi biasa-biasa saja. Tetapi sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun akan datang menjadi karya monumental luar biasa. Menjadi legacy sangat bermakna bagi generasi akan datang. Kita mengenal RA. Kartini dengan ungkapan yang sangat viral “habis gelap terbit lah terang”. Juga, kita semua bisa menikmati karya besar Empat Imam Mazhab dalam “Mazahibul Arbaah” dengan instinbath hukumnya dan hasanah keilmuan yang universal. Semuanya dituliskan dalam literasi indah dan sangat bermakna untuk pengembangan peradaban Islam.

Membuka Visi Berpikir Masa Depan

Dengan menulis, mampu memprediksi ide masa depan. Hernowo (2015: 44) menyatakan “Anda tidak usah terlalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan, atau struktur kalimat…terserah kepada Anda untuk menulis apa saja yang Anda inginkan…Anda harus membebaskan diri Anda”. Menulis dalam upaya melukis harapan masa depan. Impian masa depan, dapat dituliskan saat ini. Meminjam terminologi Emhaf (2017:vii), “Berpikir itu menembus batas realita”. Dahsyat bukan?

Akhirnya, jelaslah orang yang mampu berkarya nyatanya orang yang aktivitasnya menggunung, mobilitas tugasnya nyaris tak terbatas, nota bene kategori sangat sibuk. Komunitas seperti ini, napak tilas dinamika kegiatannya layak diabadikan dengan karya dari hari ke hari.

Masih beralasan, tidak mau menulis karena sibuk? Bukan zamannya lho. Yu, resolusi 2022 kita manfaatkan untuk menulis. Sehingga karya kita hari ini akan dicatat histori-nya dengan tinta emas. Kata kuncinya: Menulislah kendati sangat sibuk.
Wallahu ‘Alam.

Kalenderwak, 05 Januari 2022 / 02 Jumadil Ula 1443 H. Pasca Subuh Pkl. 05.15. Wib.