Menjaga Kemabruran Haji

Oleh : Agus Salim (PPIH Kloter JKS 10)

Mekkah, 15 Juli 2022 Kemabruran itu tidak sebatas ketika kita berada di tanah suci saja, tetapi setelah kita kembali ke tanah air kemabruran itu harus terus dibawa. Karena haji itu hakikatnya merubah sikap mental, ketakwaan, perilaku dari setiap manusia muslim. Ketika sudah menunaikan ibadah haji maka ketika pulang dari tanah suci harus menjadi manusia baru, yaitu manusia teladan dan manusia yang membawa kebaikan bagi manusia lainnya.

Meraih predikat haji mabrur adalah harapan setiap jamaah haji karena balasan pahalanya adalah surga, sesuai sabda Rosululloh Shalallahu alaihi wasallam :
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ
Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga ( HR. Bukhari)

Ada beberapa makna Haji Mabrur menurut beberapa Ulama :
Dalam Kitab Fathul Baarii (Syarah Bukhari) menjelaskan :
المَبْرُوْرُ المَقْبُوْلُ
Haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Taala.

Imam Nawawi dalam syarah Muslim mengatakan :
الَّذِي لاَ يُخَالِطُهُ شَيْءٌ مِنَ الإِثْمِ
Haji Mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa (tidak ada riya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq).

Berkaitan dengan itu, Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan tentang kemabruran haji :

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بِرُّ الْحَجِّ قَالَ : إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطَيِّبُ الْكَلامِ

Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang haji yang mabrur, Beliau menjawab, yaitu suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik (HR Hakim )

Sederhana sekali Nabi menjelaskan kata mabrur, yaitu orang yang suka memberi makan dan lembut dalam perkataan. Suka memberi makan melambangkan sifat dermawan, sedangkan lembut perkataan berarti ucapan-ucapannya tidak pernah menyakitkan orang lain. Simpel sekali didengarnya, namun tidak mudah untuk mempraktikkannya.  

Oleh karena itu, Jamaah Haji sepulang dari tanah suci hendaknya selalu berupaya melestarikan kemabruran ibadah haji.

Ada tiga aspek upaya dalam pelestarian kemabruran haji yaitu :
Pertama yaitu aspek kepribadian.
Setiap jamaah haji hendaknya terus berupaya melestarikan amalan yang telah dijalankan selama di tanah suci, seperti sholat tepat waktu, melaksanakan ibadah-ibadah sunah, berhias dengan sifat-sifat terpuji, cepat melakukan toubat apabila telanjur melakukan kesalahan, dan ibadah ibadah lainnya.

Kedua, aspek ubudiyah.
Setiap jamaah haji hendaknya terus berupaya untuk meningkatkan kualitas ibadah sholat, puasa sunah, tilawah quran, kepedulian terhadap orang lemah ekonomi melalui zakat, infak dan sedekah dan lain sebagainya.

Ketiga, aspek sosial.
Setiap jamaah haji harus membiasakan diri sholat berjamaah, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit dan orang yang meninggal dunia, kerja bakti dan tolong-menolong, serta mendamaikan orang yang berselisih.

Intinya adalah tanda-tanda kemabruran ibadah haji seseorang yaitu apabila mampu membentuk kepribadiannya setelah melaksanakan ibadah haji berubah menjadi lebih baik daripada sebelumnya dan tidak lagi mengulang maksiat.

Semoga kita semua dapat meraih predikat haji mabrur dan dapat melestarikan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara…Aamiin.